laman

Jumat, 30 Juli 2010

positif thinking

Belum genap sebulan, aku sudah merasa bosan. Rutinitas yang itu-itu saja membuatku jemu dan tidak bersemangat. Setiap pagi sudah harus berangkat ke perusahaan (yang insya Allah nantinya akan besar. Amin).
Aku bersama seorang rekan (lebih dari sekedar rekan sebenarnya)sedang merintis sebuah usaha. kami punya visi yang sama, kelak akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Kami tidak ingin masuk dalam barisan pencari kerja yang mengandalkan ijazah. Barisan mayoritas di negeri ini. (Bagi yang merasa, jangan tersinggung ya. ini hanya ungkapan kata hati. mengapa negeri ini semakin terbelakang? karena kebanyakan masyarakatnya lebih suka berpangku tangan. berharap keajaiban. sedangkan potensi yang dimiliki jauh lebih besar dari yang terlihat. Tidakkah terfikir ingin membuat terobosan-terobosan baru? Ingin memberi? tidak hanya berkeluh kesah dan menyalahkan. Apa yang telah kita beri untuk negeri ini? seharusnya itu yang kita fikirkan sama-sama. belajar, sekolah, kuliah seharusnya bukan untuk mendapat ijazah atau mengambil gelar. jauh lebih banyak bisa diperoleh dari institusi pendidikan. tidak hanya sekedar selembar kertas yang telah ditandatangani oleh kepala sekolah atau rektor dan dekan. tapi jauh lebih dalam lagi. seharusnya kita menggali ilmu yang sangat banyak di masa itu. menggali potensi yang tersimpan dalam diri kita masing-masing. mengasah berbagai keterampilan yang kelak akan dipergunakan. sehingga kemana pun dicampakkan, masih mampu bertahan. seperti mutiara. dimanapun berada akan tetap berkilau. begitu menurutku.)
untuk merealisasikan hal itu, alhamdulillah telah berdiri sebuah usaha. tidak terlalu muluk. mengingat saat ini merupakan zaman informasi, maka kami mendirikan sebuah warung internet yang dekat ke kampus. dengan ini, kami berniat membantu kebutuhan para mahasisiwa yang mencari beragam informasi yang bisa didapatkan dari berbagai situs yang ada di internet. kami menyediakan sarana tersebut.
suasana kampus yang masih sunyi (Karena perusahaan kami berdiri di saat mahasisiwa libur)membuat perusahaan kami masih belum terlalu ramai oleh pengunjung. keadaan ini, membuatku sedikit boring (Terkadang aku lupa bahwa aku manusia yang punya rasa jemu. uhf). mungkin Tuhan sedang melihat keseriusan kami, keteguhan hati kami, keistiqamahan kami dengan usaha yang baru ini sehingga Dia menciptakan kondisi ini di awal. berusaha untuk selalu berfikir positif, itulah yang kami lakukan. sebab dalam ajaran Islam (agama yang kami anut) disebutkan bahwa Allah Sang Pencipta akan mengikuti persangkaan hambaNya terhadapNya. berprasangka baik pada Tuhan Pencipta semesta alam.
kebosanan itu membuatku berfikir, "andai bisa lebih sibuk dari hari ini".
fikiran yang hanya terlintas sekilas itu, langsung terjawab besoknya. aku harus gantian jaga dengan salah seorang anggota (adikku yang ikut kupekerjakan agar dia segera lepas tanggungan dari orang tua) sementara rekanku harus merawat neneknya yang sedang sakit. tidak ada anggota keluarganya di kota kami tinggal, sehingga dia lah yang diharapkan dapat merawat neneknya.
hari itu merupakan hari yang sibuk bagiku. karena sejak buka di pagi harinya, telah datang beberapa orang yang mengunjungi warnet kami. tak selang beberapa lama, masuk gerombolan anak-anak yang sejak masuk telah mengacaukan susana. hehehe. maksudku, suara mereka yang sangat ribut dan celotehannya yang meramaikan suasana warnet kami. ada yang belum bisa mengoperasikan komputernya hingga harus diajari lebih dulu,ada program yang belum bisa mereka buka, hingga harus kutangani.
subhanallah, aku menyukai semua itu.
dan benarlah semua firmanNya. Dia Yang Maha Benar dan Maha Menepati Janji.
So, berprasangka baiklah selalu pada Tuhanmu.
Semoga hidupmu akan selalu diliputi kebahagiaan.
Amin.

Rabu, 28 Juli 2010

belajar maaf dari si kecil

aku punya cerita sederhana tentang si kecil. si kecil adalah sebutan bagi adikku yang paling bontot. sekarang dia telah kelas dua SD.bagiku, dia adalah sosok yang unik, istimewa. sangat istimewa.
di umurnya yang beranjak dua tahun, dia masih belum lancar berbicara. dan tepatnya sangat malas berkomunikasai dengan banyak orang. dia tenggelam dalam kegiatannya sendiri. dia sibuk dengan dirinya sendiri. saat itu, kami belum menyadari ada yang berbeda dari dirinya.
ketika umurnya mencapai empat tahun, dia masih tetap tidak lancar berkomunikasi. setelah itu kami mencari tahu penyebabnya. ternyata dia kena gejala autisme. yang bisa sembuh jika diterapi.
kekurangannya itu menjadi kelebihan yang dia miliki. karena itu, dia ku anggap sangat istimewa.
keluargaku merupakan keluarga besar. banyak penghuninya. beragam karakternya. juga beragam masalahnya. sehingga kadang melupakan hal-hal kecil. seperti meminta maaf pada si kecil jika bersalah.
si kecil, punya jiwa yang begitu lembut meskipun dia seorang laki-laki. sangat lembut. hingga melihat tontonan di televisi yang berbau kekerasan bisa membuatnya menangis.
pernah di suatu hari, dia sedang asyik menonton gala sinema di salah satu stasiun televisi kita. yang nota bene ceritanya adalah tentang kedengkian, merebut harta dan penindasan pada yang lemah.
tiba-tiba dari ruang tengah, kami mendengar suara isakan. kontan aku dan ibu yang sedang berada di dapur segera menuju asal suara yanng telah begitu kami kenali. si kecil menangis. kami takut terjadi apa-apa padanya.
ibu langsung memeluk si kecil.
"ada apa Nak?" tanya ibu sambil mengusap kepala si kecil dengan lembut.
dia masih terisak di pelukan ibu. dengan isyarat tangan, dia menunjuk ke arah tivi. ternyata di layar kaca, nampak adegan seorang pembantu sedang dimarah-marahi oleh majikannya dan diperlakukan sangat kasar. aku dan ibu tersenyum simpul.
"Udah, gk apa-apa. itu cuma di tivi sayang" ibu berusaha menenangkannya.
"Kita ganti aja ya salurannya." ucapku sembari mengambil remote control dan mencari siaran anak-anak kesukaannya.
tidak berapa lama dia pun tersenyum dan tenggelam kembali dengan tayangan kesukaannya.
si kecil yang berhati lembut. sangat gemar berterima kasih jika mendapat suatu anugrah meskipun untuk hal-hal yang kecil. sebaliknya, dia tidak pernah segan meminta maaf jika bersalah walau menurut kita adalah hal yang sepele.
"Alif, kenapa makanannya dibuang Dek?" tanyaku dengan sedikit gusar. dalam keluarga kami, tidak dibiarkan membuang makanan. itu artinya tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah.
"Oh, Maaf kak Ani. Aku tidak sengaja. tadi abang Habib menggangguku. aku, aku jadinya marah dan membuang makananku." dia paling tidak suka diganggu. dia sangat marah jika ada orang yang dengan paksa mengambil miliknya. seperti halnya masalah cemilannya yang sangat dia sukai .cara marah dia adalah dengan melempar barang tersebut. dan kemudian mengadu.
"Tapi kan tidak seperti itu juga Dek. Sayang kan kalo makanannya dibuang." dan dia sudah ada dalam dekapanku.
"Iya, kak Ani aku minta maaf." ujarnya dan memastikanku tidak lagi marah padanya.
di lain waktu, saat dia sedang menikmati cemilan yang setiap sore selalu dibelikan ibu, aku yang malah mengganggunya. ngiler. tapi seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak akan pernah mau memberikannya.
aku tidak memaksa. karena ku tahu dalam jangka waktu beberapa detik yang akan datang, dia akan memintaku mengupas bungkus plastiknya. sedangkan dia sedang melahap yang lain. benar saja.
"Kak Ani" katanya dan menyodorkan sebungkus silverqueen seharga 2500 padaku.
mataku terbelalak dan air liurku meleleh (www.lebay.com). dengan semangat 45 kubukakan coklatnya. dan tanpa sepengetahuannya, kucomot sedikit. kuperjelas lagi, kucomot hanya sedikit. dan kuberikan padanya.
aku kembali ke dapur (singgasanaku saat berada di rumah).
tiba-tiba dia menangis. segera kudatangi.
"Alif kenapa Dek?"
"huwaaaaaaaaaaaaaa" masih dengan tangisannya.
"Kenapa Lif?"
"kenapa ini berkurang Kak Ani?"
"Oh, diambil sama kak Ani tadi. abis Alif pelit sih."
"Kenapa kakak ambil? ini kan punya Alif." dengan suara yang sangat keras.
"Iya-iya. kakak salah. kakak udah ambil punya Alif. udah diam ya."
"kenapa kakak ambil makanan Alif?" dia mengulangi pertanyaannya tadi masih saja menangis.
"Iya. kakak kan udah mengaku salah. diam la." aku mulai melotot.
dia pun mengkeret padaku. sambil memegang wajahku "Iya kak Ani jangan marah. aku minta maaf".
Glek. aku menelan ludah. pantas saja dia tidak langsung diam. ternyata dia menunggu kata maaf dariku. biasanya dia tidak pernah se rewel ini.
"Iya, kakak juga minta maaf karena udah mengambil hak Alif. maafin kakak ya."
"Iya-iya kak Ani." dia pun segera turun dari gendonganku dan menikmati sisa cemilannya.
sejak itu, aku berusaha untuk meminta maaf walau sekecil apapun salahku dan berterima kasih untuk sekecil apapun nikmat yang kuterima.
terimakasih adik kecilku.......

Senin, 26 Juli 2010

dosen baruku

telah kulewati enam musim sejak ku diterima di PTN favoritku. awalnya aku sudah merancang banyak hal yang akan kulakukan jika telah mulai perkuliahan. ikut berbagai organisasi, aktif di kegiatan penulisan dan tentu saja yang tidak boleh ditinggalkan adalah belajar dan mengerjakan tugas, bukti kepatuhan pada titah atasan (www.lebay.com). aku mengira akan belajar banyak hal tentang sastra dan bertemu dengan orang-orang yang penuh dengan semangat dan vitalitas yang tinggi. para pemuda yang katanya adalah pendobrak reformasi.
namun hal itu tidak kutemui di lingkunganku yang baru.
ah, salahku juga mengapa aku harus menjadi bagian dari mereka.
dosen-dosen senior telah berulang kali menegur kami. namun, hanya segelintir orang yang mau mendengar, selebihnya hanya menganggap angin lalu. enah apa yang ada dalam benak kami saat itu.
hingga di suatu siang, kelas kami didatangi oleh seorang yang juga masih muda, hanya bertaut sekitar 5-6 tahun lebih umurnya dari kami.
seorang dosen baru. perempuan. anggun.
penampilan perdananya, telah mampu menyihir kami.
senyum yang selalu menghias di wajahnya, gerak tubuhnya yang aktif serta nada bicaranya yang lancar, mengalir seolah tiada henti.
mengajak kami juga untuk aktif. setidaknya mata kami aktif mengikuti gerakannya. ketika beliau ke kanan, kami menoleh ke arah kanan. yach, begitulah.
ujarnya: " bahasa adalah kunci. untuk bisa berbicara dengan orang asing, yang terlebih dahulu dipahami adalah bahasanya. karena itu, kuliah di fakultas bahasa tidak lebih rendah dari kuliah di fakultas yang oleh sebagian besar rakyat kita mengatakan bonafit. tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. seharusnya yang kita lakukan adalah berkarya. berusaha memberikan yang terbaik."