laman

Rabu, 28 Juli 2010

belajar maaf dari si kecil

aku punya cerita sederhana tentang si kecil. si kecil adalah sebutan bagi adikku yang paling bontot. sekarang dia telah kelas dua SD.bagiku, dia adalah sosok yang unik, istimewa. sangat istimewa.
di umurnya yang beranjak dua tahun, dia masih belum lancar berbicara. dan tepatnya sangat malas berkomunikasai dengan banyak orang. dia tenggelam dalam kegiatannya sendiri. dia sibuk dengan dirinya sendiri. saat itu, kami belum menyadari ada yang berbeda dari dirinya.
ketika umurnya mencapai empat tahun, dia masih tetap tidak lancar berkomunikasi. setelah itu kami mencari tahu penyebabnya. ternyata dia kena gejala autisme. yang bisa sembuh jika diterapi.
kekurangannya itu menjadi kelebihan yang dia miliki. karena itu, dia ku anggap sangat istimewa.
keluargaku merupakan keluarga besar. banyak penghuninya. beragam karakternya. juga beragam masalahnya. sehingga kadang melupakan hal-hal kecil. seperti meminta maaf pada si kecil jika bersalah.
si kecil, punya jiwa yang begitu lembut meskipun dia seorang laki-laki. sangat lembut. hingga melihat tontonan di televisi yang berbau kekerasan bisa membuatnya menangis.
pernah di suatu hari, dia sedang asyik menonton gala sinema di salah satu stasiun televisi kita. yang nota bene ceritanya adalah tentang kedengkian, merebut harta dan penindasan pada yang lemah.
tiba-tiba dari ruang tengah, kami mendengar suara isakan. kontan aku dan ibu yang sedang berada di dapur segera menuju asal suara yanng telah begitu kami kenali. si kecil menangis. kami takut terjadi apa-apa padanya.
ibu langsung memeluk si kecil.
"ada apa Nak?" tanya ibu sambil mengusap kepala si kecil dengan lembut.
dia masih terisak di pelukan ibu. dengan isyarat tangan, dia menunjuk ke arah tivi. ternyata di layar kaca, nampak adegan seorang pembantu sedang dimarah-marahi oleh majikannya dan diperlakukan sangat kasar. aku dan ibu tersenyum simpul.
"Udah, gk apa-apa. itu cuma di tivi sayang" ibu berusaha menenangkannya.
"Kita ganti aja ya salurannya." ucapku sembari mengambil remote control dan mencari siaran anak-anak kesukaannya.
tidak berapa lama dia pun tersenyum dan tenggelam kembali dengan tayangan kesukaannya.
si kecil yang berhati lembut. sangat gemar berterima kasih jika mendapat suatu anugrah meskipun untuk hal-hal yang kecil. sebaliknya, dia tidak pernah segan meminta maaf jika bersalah walau menurut kita adalah hal yang sepele.
"Alif, kenapa makanannya dibuang Dek?" tanyaku dengan sedikit gusar. dalam keluarga kami, tidak dibiarkan membuang makanan. itu artinya tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah.
"Oh, Maaf kak Ani. Aku tidak sengaja. tadi abang Habib menggangguku. aku, aku jadinya marah dan membuang makananku." dia paling tidak suka diganggu. dia sangat marah jika ada orang yang dengan paksa mengambil miliknya. seperti halnya masalah cemilannya yang sangat dia sukai .cara marah dia adalah dengan melempar barang tersebut. dan kemudian mengadu.
"Tapi kan tidak seperti itu juga Dek. Sayang kan kalo makanannya dibuang." dan dia sudah ada dalam dekapanku.
"Iya, kak Ani aku minta maaf." ujarnya dan memastikanku tidak lagi marah padanya.
di lain waktu, saat dia sedang menikmati cemilan yang setiap sore selalu dibelikan ibu, aku yang malah mengganggunya. ngiler. tapi seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak akan pernah mau memberikannya.
aku tidak memaksa. karena ku tahu dalam jangka waktu beberapa detik yang akan datang, dia akan memintaku mengupas bungkus plastiknya. sedangkan dia sedang melahap yang lain. benar saja.
"Kak Ani" katanya dan menyodorkan sebungkus silverqueen seharga 2500 padaku.
mataku terbelalak dan air liurku meleleh (www.lebay.com). dengan semangat 45 kubukakan coklatnya. dan tanpa sepengetahuannya, kucomot sedikit. kuperjelas lagi, kucomot hanya sedikit. dan kuberikan padanya.
aku kembali ke dapur (singgasanaku saat berada di rumah).
tiba-tiba dia menangis. segera kudatangi.
"Alif kenapa Dek?"
"huwaaaaaaaaaaaaaa" masih dengan tangisannya.
"Kenapa Lif?"
"kenapa ini berkurang Kak Ani?"
"Oh, diambil sama kak Ani tadi. abis Alif pelit sih."
"Kenapa kakak ambil? ini kan punya Alif." dengan suara yang sangat keras.
"Iya-iya. kakak salah. kakak udah ambil punya Alif. udah diam ya."
"kenapa kakak ambil makanan Alif?" dia mengulangi pertanyaannya tadi masih saja menangis.
"Iya. kakak kan udah mengaku salah. diam la." aku mulai melotot.
dia pun mengkeret padaku. sambil memegang wajahku "Iya kak Ani jangan marah. aku minta maaf".
Glek. aku menelan ludah. pantas saja dia tidak langsung diam. ternyata dia menunggu kata maaf dariku. biasanya dia tidak pernah se rewel ini.
"Iya, kakak juga minta maaf karena udah mengambil hak Alif. maafin kakak ya."
"Iya-iya kak Ani." dia pun segera turun dari gendonganku dan menikmati sisa cemilannya.
sejak itu, aku berusaha untuk meminta maaf walau sekecil apapun salahku dan berterima kasih untuk sekecil apapun nikmat yang kuterima.
terimakasih adik kecilku.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar