telah kulewati enam musim sejak ku diterima di PTN favoritku. awalnya aku sudah merancang banyak hal yang akan kulakukan jika telah mulai perkuliahan. ikut berbagai organisasi, aktif di kegiatan penulisan dan tentu saja yang tidak boleh ditinggalkan adalah belajar dan mengerjakan tugas, bukti kepatuhan pada titah atasan (www.lebay.com). aku mengira akan belajar banyak hal tentang sastra dan bertemu dengan orang-orang yang penuh dengan semangat dan vitalitas yang tinggi. para pemuda yang katanya adalah pendobrak reformasi.
namun hal itu tidak kutemui di lingkunganku yang baru.
ah, salahku juga mengapa aku harus menjadi bagian dari mereka.
dosen-dosen senior telah berulang kali menegur kami. namun, hanya segelintir orang yang mau mendengar, selebihnya hanya menganggap angin lalu. enah apa yang ada dalam benak kami saat itu.
hingga di suatu siang, kelas kami didatangi oleh seorang yang juga masih muda, hanya bertaut sekitar 5-6 tahun lebih umurnya dari kami.
seorang dosen baru. perempuan. anggun.
penampilan perdananya, telah mampu menyihir kami.
senyum yang selalu menghias di wajahnya, gerak tubuhnya yang aktif serta nada bicaranya yang lancar, mengalir seolah tiada henti.
mengajak kami juga untuk aktif. setidaknya mata kami aktif mengikuti gerakannya. ketika beliau ke kanan, kami menoleh ke arah kanan. yach, begitulah.
ujarnya: " bahasa adalah kunci. untuk bisa berbicara dengan orang asing, yang terlebih dahulu dipahami adalah bahasanya. karena itu, kuliah di fakultas bahasa tidak lebih rendah dari kuliah di fakultas yang oleh sebagian besar rakyat kita mengatakan bonafit. tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. seharusnya yang kita lakukan adalah berkarya. berusaha memberikan yang terbaik."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar